Anxious Met Avoidant

This is a bunch of random stories from an Anxious who met Avoidant. It's not talking about the bad side of Avoidant, rather than I want to appreciate it.

I made up my mind to have a dedicated blog regarding “Anxious met Avoidant”. This is a personal story and experience. So if you think like “that's not Anxious enough” or “that's not Avoidant enough” or “you should leave her!”, then definitely this blog is not for you.

Before jumping in, this post is an introduction so you will know a bit on what I will post here. Most of it are random things that happened between us, an Anxious and an Avoidant. By the way, we are no longer together. But occassionally we still keep in touch, and we might tell you more about it.

In case this blog doesn't post anything new, it means that there are nothing new between us. Or rather be like we have become a total stranger to each other. So, while it last, I want to store it as a memory here so one day I can look it back and smile a bit.

I am a man, somewhere around 25 to 30, an anxious. She is a woman, somewhere around 22 to 25, an avoidant.

How do I know if I am an anxious? I tried filling in detailed questionnaire from attachment specialist, and the result are always same, an anxious.

While she said herself that she is an avoidant. I am not sure where did she get to know it, but I can see all the avoidant flags along her words.

I will tell you in the next post how do we met. So until then, enjoy and thanks for reading!

You read it right and I know that these two are rarely put into the same sentence together. Well actually she joined the group first, so I can't say that “she came like a storm”. But then I joined the group as a mild wind, that was my expectation. But apparently everyone make a storm out of my participation in the group.

Her flirt was a casual flirt, like a girl who “passionately” fall in love with someone. Which I never bother at the first place, since I know that we are both unknown to each other. There is no way someone fall into me without us talking to each other at the first place.

Let's do some overview on the technical group. It was a web3 group actually, but it's not something related to dev. Apparently, it's not always about technical discussion. So often times I saw discussion about skincare, food, and literally anything. It made me get comfortable quickly with the group.

At some point, her flirt somehow pushed me to be more active in the group. It's like now everyone kinda hook her and I together. That way, it put me in a situation where I had to show myself more. At that time I didn't really care with the hook up, I just go with the vibe. So I become a “speaker” few times and shared about my perspective as a dev and auditor.

Long story short, she got into a hot “fight” with one of the group founder, then she deleted her account. At that time, I feel like I've lost her as the member of the group. If I recall correctly, basically the founder was “mocking” her for not actively working on the rest member of the group is working on. I didn't work on that either anyway. Usually, we shrug it off and move on. But she decided to get on the debate, and both of them keep doing it for a while.

That was basically this episode of Flirty Girl and Technical Group. I am not sure if I should continue the story here, or on another post since it's a bit no longer relevant to “technical group” again. So we are going to see it on another post, see ya around!

entah sejak kapan, “bingung” itu jadi kata yang cukup spesial dan punya suatu nilai buat gw. biasanya, kata hanyalah kata, untuk mengekspresikan sesuatu. tapi kali ini, “bingung” punya nilai lebih dari itu.

setelah gw coba untuk mencari tau nilai lain dari “bingung” untuk gw, ternyata nilai itu adalah “comfort”. comfort dari orang yang gw sukai beberapa waktu lalu.

gw engga ingat pasti apakah ucapan ini datang dari masa lalu, atau otak gw berupaya memanipulasi ingatan gw.

lu lagi bingung kan?

andai betul bahwa otak gw engga memanipulasi ingatan gw, ucapan itu sering kali diucapkan ke gw. ucapan yang bagi gw itu menunjukkan kepekaan dan kepedulian atas isi kepala gw yang berantakan.

kepala gw berasa agak plong ketika denger dia ngomong itu. seakan dia ngebolehin gw buat ngomong apa aja yang lagi lewat di kepala gw. ngomong apa aja yang dia ga bakal judge gw.

sekarang

ketika gw reflek bilang “bingung”, gw merasa ada sesuatu tapi gw ga begitu ingat itu apa. setelah gw refleksi begini, gw jadi sadar bahwa ada yang pernah memberikan comfort tiap kali gw bingung.

jadi untuk sekarang, setiap kali gw merasa bingung, gw akan mundur, diam sejenak, memikirkan dan mempertimbangkan hal selama yang gw butuhkan. melalui hal dengan tidak terburu-buru dan tetap nyaman.

terima kasih untuk kamu yang pernah memberikan kenyamanan dibalik kata “bingung”. doa baik untuk kamu di setiap kebingungan ku.

Jujur engga kebayang bisa “hidup” sejauh ini setelah life after breakup. Meski rasanya engga sopan juga dibilang “breakup” karena we were “nothing”, atau biasa disebut “hts”.

Gw kira hidup gw bakal berhenti gitu aja setelah lu jauhin gw. Entah udah berapa bulan, mungkin 4 bulan, mungkin 2 bulan, sakit rasanya buat ngehitung itu.

Gw mikir kayak, 2025 sisa beberapa hari lagi, kayaknya gw perlu menata hidup. Dalam artian, apa sih yang bikin gw berat untuk meninggalkan hal-hal yang terjadi di 2025 untuk tetep di 2025 dan ga kebawa ke 2026. Dan tentu saja, satu hal yang paling berat untuk gw tinggalkan adalah perasaan gw ke elu.

Seandainya kita pisah dengan cara yang ga baik-baik, mungkin gw bakal marah ataupun dendam, dan dengan mudah meninggalkan semua ini di 2025. Tapi, hal yang gw inginkan ini malah ga kejadian. Lu pisah dengan baik-baik, bahkan masih sempet ngajak main gw after breakup. Mana bisa gw benci ke elu. Apalagi juga gw, gatau ya, gw merasa, gwnya pengen elu.

Bahkan sampe detik ini, gw gatau elu udah move on dan punya pasangan baru apa belum. Gw gatau elu udah lupain gw apa belum. Gw gatau elu masih ada perasaan ke gw apa engga. Gw jadi terlalu takut buat stalk sosmed lu. Dan gw jadi terlalu takut buat nanya ke elu, karena sekarang udah bukan siapa-siapa lagi. Padahal kata “sayang” dan “cinta” pada waktu itu adalah kata yang sangat umum kita pake sehari-hari. Sekarang bukan hanya kata “sayang” dan “cinta” aja yang asing, kitanya juga asing.

Jadi, gimana caranya biar gw bisa meninggalkan “kita” di 2025?

Gw sayang lu, itu fakta. Hal yang lu lakuin buat gw itu bikin gw nyaman, itu fakta. Lu sayang gw, mungkin itu fakta, tapi itu masa lalu. Kita sekarang asing, bukan siapa-siapa, itu fakta. Berharap kita bakal kembali ke hubungan yang intens kayak waktu itu? Sebaiknya gw jangan bermimpi.

Mungkin menerima fakta-fakta ini bisa bantu gw buat melepaskan elu. Mungkin bisa bantu untuk menerima bahwa ini semua masa lalu, dan bukan masa depan. Mungkin bisa bantu gw untuk menghadapi masa depan yang bener-bener hitam, tanpa ada elu, tanpa ada kita.

Pertemuan kita singkat, tapi gw merasa kayak elu sangat berarti buat hidup gw. Kayak seakan-akan elu orang yang selama ini gw cari. Padahal faktanya mungkin engga 100% bener gitu, tapi gw merasa gitu.

Jujur gw masih berharap, karena senyaman itu gw sama elu. Tapi semakin gw berharap, semakin gw terluka. Buat apa gw terluka, kalau misalkan elu ngejauhin gw? Iya ngga sih? Kek, gw berjuang buat apa?

Ini bukan salah elu kok. Dan gw juga engga mau nyalahin gw sendiri. Takdir kita memang berbeda aja. Dan elu berhasil menerima itu lebih dulu. Sedangkan gw di sini masih denial dan berpegang erat ke masa lalu kita.

Entah lu bakal baca ini apa engga. Doain gw ya biar bisa melepas masa lalu kita.

Gw berdoa semoga apapun yang lu ingin capai di dunia ini bisa tercapai. Gw di sini hidup cuman nunggu mati aja, engga ada yang mau gw capai lagi, jadi gw bisa pake doa gw buat kesehatan dan impian elu.

Sekali lagi makasih buat masa-masa indah bersamanya. It meant a lot to me.